“Saya akan kahwin dengan puteri Abi…sekarang juga.” Kata Adam dengan penuh keyakinan. Encik Omar memberi isyarat lemah dengan tangan, meminta agar alat bantuan pernafasan ditanggalkan dari hidungnya. Nafasnya pendek, terputus-putus tapi pandangan matanya tetap mencari…dan akhirnya bertemu dengan wajah Nurraysa.
“Ta…pi…..Nurraysa….” suara Encik Omar perlahan seperti bayu yang hampir hilang. Nurraysa menggenggam erat tangan ayahnya seolah-olah tidak mahu melepaskan walau sedetik. Air mata terus mengalir, membasahi tangan yang sudah tua dan sejuk itu. Dia mengusap lembut kedua mata ayahnya yang sudah tidak mampu menahan kelopak sendiri.
“Abi…Sya di sini…Sya ada dan Sya akan tunaikan semua amanah Abi.”
“Sya dah terima lamaran Encik Adam…” suara Nurraysa bergetar di antara sendu namun dia tetap berusaha tersenyum. Senyuman itu adalah hadiah terakhir untuk ayahnya.
“Abi….Abi nak jadi wali Sya kan?. Abi pernah cakap…Abi nak berjabat tangan dengan bakal suami Sya…kan?.”
Air matanya terus mengalir namun senyum itu tetap di situ. Terselit di antara luka dan cinta.
“Bagaimana dengan maharnya?.” Soal Khalish, suaranya perlahan, penuh hormat pada saat yang begitu genting.
Adam menoleh ke arah Nurraysa. Tangannya sempat menyentuh saku seluarnya, kosong!. Dia terlupa membawa cincin itu bersama namun saat ini bukan tentang perhiasan tapi pengorbanan.
“Sya….awak tak keberatan kalau maharnya adalah hafalan surah Al-Quran?.” Tanya Adam dengan suara lembut.
Nurraysa mengangguk, tanpa ragu walau sedikit pun.
“Saya tak keberatan sekalipun maharnya cuma cincin besi, saya tetap redha.”
Di atas katil hospital itu, Encik Omar semakin pucat. Tidak ada transfusi darah untuk memperkuat tubuhnya. Hanya infus dan heparin yang menitis perlahan. Itupun tidak cukup untuk menahan tubuhnya daripada semakin lemah.
Dengan sisa tenaga yang tinggal, Encik Omar mengangkat tangannya lalu menggenggam tangan Adam. Tangan itu dingin dan lemah namun di dalamnya ada kekuatan cinta seorang ayah yang mahu melepaskan anak perempuannya kepada lelaki yang dipercayai. Dengan suara tersekat dan nafas yang tercungap-cungap, Encik Omar melafazkan akad pernikahan;
“Aku nikahkan kamu Muhammad Adam Mikhael bin Kamaruzzaman dengan anakku, Nur Nurraysa binti Omar…dengan mahar berupa hafalan surah Ar-Rahman, tunai.”
Adam menunduk dalam lalu dengan penuh khusyuk, dia membalas;
“Aku terima nikahnya Nur Nurraysa binti Omar dengan mahar tersebut, tunai.”
Lalu Adam membacakan surah Ar-Rahman perlahan namun penuh penghayatan. Suaranya seperti alunan malam yang menyentuh kalbu.
Khalish dan pembantu Adam, doktor lelaki yang masih muda itu menjadi saksi pernikahan mereka berdua. Mereka mengangguk perlahan dan berkata;
“Sah!.”

Ulasan
Catat Ulasan