“Encik Adam…baru balik?.”
Langkah Adam mendekat. Tiada kata. Hanya keheningan yang memimpin ruang.
“Errr…”
Belum sempat gadis itu bergerak, tubuh mungilnya sudah dirangkul erat oleh lelaki yang kini menjadi suaminya. Nafasnya terhenti seketika, matanya terbeliak sedikit. Pelukan itu hangat tapi mengejutkan. Tubuhnya segera kaku, tak tahu harus bagaimana.
“Eeee….Encik Adam…kenapa ni?.”
“Diam sekejap….” bisik Adam, suaranya terlalu lembut, penuh sesuatu yang sukar dijelaskan.
“Tolong…jangan cakap apa-apa dulu…”
Mendengar nada suara itu yang seperti diselubungi bimbang, Nurraysa pun hanya mampu diam. Dia membiarkan dirinya berada dalam pelukan itu. Sepuluh minit berlalu dalam senyap. Hanya detik jam dan hembusan angin yang menjadi saksi. Bila akhirnya pelukan itu dileraikan, jantung Nurraysa masih belum mampu bertenang. Dadanya berombak. Rasanya seperti baru turun dari roller coaster yang terlalu laju. Dia masih tercari-cari maksud dari perlakuan itu. Ingin saja dia bertanya…apa yang sebenarnya berlaku?. Kalau hanya kerana perbualan mereka yang tegang siang tadi….sungguh ini berlebihan, fikir Nurraysa tapi di wajah Adam, dia dapat menangkap sesuatu. Ada segaris kesedihan yang tak sempat disembunyikan sepenuhnya.
Dia berpaling, memutar tubuhnya agar dapat menatap wajah lelaki itu.
“Encik Adam…kenapa?.”
Adam hanya menggeleng perlahan, seakan tiada kata yang mampu menjelaskan apa yang sedang menyesak dalam dadanya.

Ulasan
Catat Ulasan